Sabtu, 15 Maret 2014

Untuk hati yang resah (Allah telah menjawab nya)



1. Mengapa Allah menciptakan ku?
“ Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada- Ku” (QS. Az-Zariyat: 56)

2. Mengapa Allah menguji ku?
“ Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan ‘kami telah beriman’ dan mereka tidak di uji?” (QS. Al-Ankabut: 2)

3. Mengapa Allah memberi ujian seberat ini?
“ … boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagi mu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al- Baqarah: 216)
“ Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS. Al- Baqarah: 286)

4. Ya Allah, aku hanya mampu berkeluh kesah pada MU…
“ Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah” (QS. Al-Ma’arij: 19-20)


5. Apa yang harus aku lakukan ya Rabb?
“ Dan mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat. Dan shalat itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusuk” (QS. Al-Baqarah: 45)
“ Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah:153)
“ Maka bersabarlah engkau dengan kesabaran yang baik” (QS. Al-Ma’arij:5)
“ … Berdoalah kepada –Ku, niscaya akan Aku kabulkan…” (QS.al-Mu’min: 60)
“ orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat allah hati menjadi tentram” (QS. Ar-Ra’d:28)

6. Doa ku..
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 286)
“ Ya Tuhan ku, lapangkanlah dada ku, dan mudahkanlah untuk ku urusan ku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidah ku” (QS. Taha: 25-27)
“ Ya Tuhan ku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepada kedua orang tua ku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang engkau ridhai, dan masuknlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba- Mu yang shaleh “ (QS. An-Naml: 19)

KIAT SUPAYA TIDAK SERING MENGELUH



Mengeluh wajar-wajar saja, manusiawi, kodrat manusia memang suka berkeluh kesah seperti disebutkan Allah SWT. dalam QS.Al-Ma'arij (70):19-20,

إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا
إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.
Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah.”


Tetapi kalau kita terlalu gampang mengeluh, maka hal tersebut akan membuat kita menjadi hamba yang kurang bersyukur terhadap semua nikmat Allah dan akan merupakan ciri-ciri kurangnya keikhlasan kita terhadap segala pengaturan-Nya. Jalanan macet kita mengeluh, padahal kita tahu bahwa kemacetan adalah pemandangan sehari-hari kehidupan di kota. Pekerjaan rumah tangga menumpuk karena tidak ada pembantu, kita mengeluh. Anak rewel, kita mengeluh. Tugas di kantor atau di sekolah bertambah, kita mengeluh. Seolah semua hal jadi bahan keluhan. Cobalah ditelaah, banyak hal-hal yang kita keluhkan hanyalah urusan dunia, karena ketidakpuasan kita terhadap hal-hal yang bersifat duniawi.



Cobalah mulai mensyukuri semua nikmat yang ada, nikmat kesehatan, kemudahan urusan, rezeki, nikmat karunia anak, rumah, jalan keluar dari kesulitan yang dialami dan sebagainya.

Sebagai makhluk yang lemah, setiap manusia tentu saja suatu waktu pernah mengeluh, sadar atau tidak sadar. Sesekali mengeluh tidak mengapa, asal jangan menjadi kebiasaan yang akhirnya menjadi karakter yang sulit dihapus dari kepribadian seseorang.
  1. Biasakan menyampaikan keluh kesah pada Allah semata.
    Ketika kita ditimpa kemalangan atau musibah, lebih baik kita menyampaikan keluh kesah dan kegundahan hati kita pada Allah SWT. Karena Dia-lah Yang Maha Tahu segala persoalan dan kegundahan dalam jiwa kita.
قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya. (QS. Yusuf : 86)

Dekatkan diri pada Allah, tafakuri semua yang ada dalam hidup, mulailah belajar mensyukuri semua karunia-Nya.
  1. Kita harus ingat, bahwa tidak ada persoalan yang tidak bisa dicari solusinya.
    Mohonlah bantuan pada Allah SWT. dan sebaiknya, lebih baik memikirkan, mencari dan membicarakan solusi praktis atas permasalahan yang kita hadapi, daripada sekedar mengeluh.
  2. Jangan membesar-besarkan masalah.
    Anas bin Malik RA. berkata,
"Saya melayani Rasululullah SAW. selama dua puluh tahun dan beliau tidak pernah mengatakan 'ahh' pada saya. Dan beliau tidak pernah mengatakan apapun yang tidak saya lakukan, 'mengapa kamu tidak melakukannya?' atau apapun yang telah saya lakukan, 'mengapa engkau melakukan itu?'" (HR. Muslim)

Jadi biarkan saja hal-hal sepele yang tidak penting itu lenyap dan tidak lagi mengganggu pikiran kita.
  1. Bicaralah tentang nikmat Allah.
    Daripada memilih membicarakan segala sesuatu yang salah dalam hidup kita, pilihlah topik pembicaraan tentang hal-hal yang menyenangkan dalam hidup. Dengan bersikap seperti ini, bukan hanya membantu kita menghindar dari keluhan, tapi juga mematuhi perintah Allah untuk selalu mensyukuri nikmat Allah,
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Lalu nikmat Allah manakah yang engkau dustakan? (QS. Ar-Rahmaan)
  1. Ingatlah mereka yang lebih kurang beruntung.
    Salah satu cara untuk menyentak kita kembali untuk melihat realitas dan menghargai berkah yang Allah berikan pada kita adalah mengingat mereka yang kurang beruntung dari kita. Bacalah berita-berita tentang orang lain yang menderita di bagian dunia lain.
    Bacalah tentang kehidupan anak yatim piatu di Palestina, tentang kehidupan para tunawisma di lingkungan kita sendiri.
    Sesekali berinteraksilah dengan mereka dan jangan menenggelamkan diri dalam rasa putus asa, tetapi menggunakan cerita mereka sebagai alat untuk bersyukur dan bersyukur kepada Allah atas apa yang kita miliki.
  2. Kurangi stres dalam hidup.
    Berdzikir dan membaca Al Qur'an akan memberikan ketenangan bagi hati dan pikiran kita. Perbanyaklah dzikir untuk mengurangi stres.
  3. Belajarlah dari orang-orang terdahulu (pengalaman).
    Bacalah kisah-kisah dalam Sirah, catatlah bagian-bagian yang penting dan pengalaman para Nabi, sahabat Nabi dan generasi-generasi muslim di masa lalu, belajarlah dari pengalaman, sikap dan cara mereka menghadapi masalah.
  4. Kenali sikap suka mengeluh yang jadi kebiasaan.
    Perhatikanlah selalu perkataan kita dari waktu ke waktu, apakah kita merasakan bahwa mengeluh lebih merupakan kebiasaan dari suatu usaha yang berguna? Mengakui hal itu sebagai kebiasaan adalah langkah pertama yang penting untuk mulai melawan sikap suka mengeluh.
  5. Bicaralah seperlunya.
    Jika kita sudah mencoba segala sesuatu yang kita pikirkan dan masih menemukan diri kita masih terlalu banyak mengeluh, mungkin itu karena kita sudah terlalu banyak bicara. Jangan biarkan setan yang mengarahkan kita untuk bicara hal-hal yang tidak berguna atau berbahaya.

Wallahua'lam bishshowab.***

[Dikutip dari tausiyah Ust. MUHAMMAD ARIFIN ILHAM.]

Minggu, 02 Maret 2014

RAHASIA MEMBUAT HIDUP TERASA INDAH



Rasa syukur itu membuat hidup kita indah..
Rasa syukur itu membuat yang sedikit terasa cukup..
Rasa syukur itu mengubah apa yang kita miliki menjadi cukup dan berharga..
Rasa syukur itu mengubah masalah y
ang kita hadapi menjadi hikmah yang bernilai..
Rasa syukur itu mengubah makanan biasa terasa menjadi istimewa..
Rasa syukur itu dapat mengubah rumah yang sempit terasa lapang
dan nyaman..

Rasa syukur itu mengubah kegagalan menjadi pelajaran berharga..
Rasa syukur itu mengubah kekeruhan suasana menjadi kejernihan..
Rasa syukur itu membuat sesuatu yang tidak enak menajdi enak..
Rasa syukur itu membuat sesuatu penolakan menjadi penerimaan..
Rasa syukur itu dapat mengubah rasa benci menjadi kasih sayang..
Rasa syukur itu membuat kedamaian di hati kita..
Rasa syukur itu menjadikan hari ini terasa damai..
Rasa syukur itu membuat masa lalu menjadi kenangan.. masa depan adalah harapan..

Ternyata rahasia membuat hidup indah itu hanya rasa syukur
dalam hati..

"Ya Allah bantulah aku untuk dapat mengingat-Mu..bersyukur atas nikmat-Mu dan beribadah kepada-Mu dengan baik." Aamin.. ^_^

Bolehkah menilai diri sendiri berdasarkan penilaian orang lain?



Manusia terkadang menilai dirinya sendiri berdasarkan penilaian orang lain terhadap dirinya. Dia lebih peduli apa kata orang lain tentang dirinya walaupun itu membuatnya tidak dapat mengekspresikan dirinya sendiri. Reaksi atau action meraka sangat bergantung pada tanggapan orang-orang di sekelilingnya sehingga terkadang hal tersebut membuatnya sulit untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya. Ia juga menjadi takut untuk mengambil keputusan mengenai suatu karena khawatir apa kata orang lain mengenai itu.
Setiap manusia menjalani hidupnya masing-masing dan bertanggung jawab pada hidupnya sendiri. Artinya, tiap individu memiliki kendali penuh terhadap hidupnya masing-masing. Kita senidrilah yang memiliki kendali atas hidup kita, bukan orang lain. Mengapa? Seberat apapun campur tangan atau pengaruh orang lain atas diri kita, tetap saja mengambil keputusan terakhir adalah diri kita sendiri. Orang-orang yang berada di sekeliling kita hanyalah merupakan factor luar. Sekuat apa pun meraka mengharapkan sesuatu atas diri kita, jika kita tidak menghendakinya , kita tidak akan melakukan harapan atau keinginan dari orang lain tersebut. Yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana caranya supaya kita PeDe dalam menjalani hidup kita sendiri. Kita tidak lagi bergantung pada pendapat orang lain. Ini bukan berarti kita tidak boleh menanyakan atau mendengarkan pendapat pendapat orang lain karena terkadang orang lain dapat lebih melihat kekurangan kita jika dibandingkan dengan kita sendiri. Kita jadikan pendpat orang lain tersebut sebagai bahan masukan, tetapi pendapatnya itu bukanlah segalanya.
Segabai seorang muslimah, kita tidak langsung antipasti bila mendengar sesuatu yang negative mengenai diri kita dari orang lain. Sebelum merespons tindakan apa yang kira-kira akan diambil, kita sebaiknya mengintrospeksi diri, apakah benar apa yang orang lain katakana tentang diri kita. Jika benar, bersyukurlah, Allah Swt, telah mengingatkan kita tentang kekurangan kita melalui orang lain dan kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki kekurangan atau kelemahan tersebut. Bagi seorang muslimah, suatu kenikmatanlah yang diperoleh ketika orang lain mengingatkan kekurangan kita. Coba bayangkan kalau kita terus-menerus tidak sadar akan kelemahan kita. Lebih-lebih kalau kelemahan itu ternyata termasuk kategori “dosa” di mata Allah Swt, lalu misalnya, tiba-tiba kita meninggal dunia sebelum sempat memperbaikinya. Bagaimana kita akan mempertanggung jawabkannya di hadapan Pencipta kita? Sebaliknya, bila orang lain memberi pendapat positif tentang diri kita, ucapkanlah Alhamdulillah karena semua ini terjadi atas kehendak dan izin Allah Swt, atas diri kita. ^_^

--> Jadikan Pandangan Allah Swt, sebagai yang Utama
Dalam hidup ini, terkadang kita terlalu paku dengan apa kata orang lain mengenai sesuatu hal. Kita takut melakukan sesuatu karena khawatir bagaimana penilaian orang lain tentang diri kita. Sebaliknya, kita mungkin malah berani melanggar rambu-rambu yang seharusnya tidak kita lakukan karena orang lain “member dukungan” atas apa yang kita lakukan ini. Pokoknya, pendapat orang lainlah yang selalu menjadi acuan terhadap setiap langkah kita.
Sebagai seorang muslimah, kita memosisikan pandangan atau pendapat Allah di atas pendapat manusia karena Allah adalah Tuhan kita. Sesuatu yang baik menurut manusia, belum tentu baik menurut Allah. Demikian juga sebaliknya, sesuatu yang buruk menurut manusia, belum tentu buruk menurut Allah. Ingat, pada hari kiamat nanti, pendapat Allah-lah yang akan berlaku. Jadi, untuk apa kita sibuk memikirkan pendapat orang lain bila ternyata di mata Allah, hal itu termasuk yang dilarang. ^_^