Minggu, 02 Maret 2014

Bolehkah menilai diri sendiri berdasarkan penilaian orang lain?



Manusia terkadang menilai dirinya sendiri berdasarkan penilaian orang lain terhadap dirinya. Dia lebih peduli apa kata orang lain tentang dirinya walaupun itu membuatnya tidak dapat mengekspresikan dirinya sendiri. Reaksi atau action meraka sangat bergantung pada tanggapan orang-orang di sekelilingnya sehingga terkadang hal tersebut membuatnya sulit untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya. Ia juga menjadi takut untuk mengambil keputusan mengenai suatu karena khawatir apa kata orang lain mengenai itu.
Setiap manusia menjalani hidupnya masing-masing dan bertanggung jawab pada hidupnya sendiri. Artinya, tiap individu memiliki kendali penuh terhadap hidupnya masing-masing. Kita senidrilah yang memiliki kendali atas hidup kita, bukan orang lain. Mengapa? Seberat apapun campur tangan atau pengaruh orang lain atas diri kita, tetap saja mengambil keputusan terakhir adalah diri kita sendiri. Orang-orang yang berada di sekeliling kita hanyalah merupakan factor luar. Sekuat apa pun meraka mengharapkan sesuatu atas diri kita, jika kita tidak menghendakinya , kita tidak akan melakukan harapan atau keinginan dari orang lain tersebut. Yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana caranya supaya kita PeDe dalam menjalani hidup kita sendiri. Kita tidak lagi bergantung pada pendapat orang lain. Ini bukan berarti kita tidak boleh menanyakan atau mendengarkan pendapat pendapat orang lain karena terkadang orang lain dapat lebih melihat kekurangan kita jika dibandingkan dengan kita sendiri. Kita jadikan pendpat orang lain tersebut sebagai bahan masukan, tetapi pendapatnya itu bukanlah segalanya.
Segabai seorang muslimah, kita tidak langsung antipasti bila mendengar sesuatu yang negative mengenai diri kita dari orang lain. Sebelum merespons tindakan apa yang kira-kira akan diambil, kita sebaiknya mengintrospeksi diri, apakah benar apa yang orang lain katakana tentang diri kita. Jika benar, bersyukurlah, Allah Swt, telah mengingatkan kita tentang kekurangan kita melalui orang lain dan kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki kekurangan atau kelemahan tersebut. Bagi seorang muslimah, suatu kenikmatanlah yang diperoleh ketika orang lain mengingatkan kekurangan kita. Coba bayangkan kalau kita terus-menerus tidak sadar akan kelemahan kita. Lebih-lebih kalau kelemahan itu ternyata termasuk kategori “dosa” di mata Allah Swt, lalu misalnya, tiba-tiba kita meninggal dunia sebelum sempat memperbaikinya. Bagaimana kita akan mempertanggung jawabkannya di hadapan Pencipta kita? Sebaliknya, bila orang lain memberi pendapat positif tentang diri kita, ucapkanlah Alhamdulillah karena semua ini terjadi atas kehendak dan izin Allah Swt, atas diri kita. ^_^

--> Jadikan Pandangan Allah Swt, sebagai yang Utama
Dalam hidup ini, terkadang kita terlalu paku dengan apa kata orang lain mengenai sesuatu hal. Kita takut melakukan sesuatu karena khawatir bagaimana penilaian orang lain tentang diri kita. Sebaliknya, kita mungkin malah berani melanggar rambu-rambu yang seharusnya tidak kita lakukan karena orang lain “member dukungan” atas apa yang kita lakukan ini. Pokoknya, pendapat orang lainlah yang selalu menjadi acuan terhadap setiap langkah kita.
Sebagai seorang muslimah, kita memosisikan pandangan atau pendapat Allah di atas pendapat manusia karena Allah adalah Tuhan kita. Sesuatu yang baik menurut manusia, belum tentu baik menurut Allah. Demikian juga sebaliknya, sesuatu yang buruk menurut manusia, belum tentu buruk menurut Allah. Ingat, pada hari kiamat nanti, pendapat Allah-lah yang akan berlaku. Jadi, untuk apa kita sibuk memikirkan pendapat orang lain bila ternyata di mata Allah, hal itu termasuk yang dilarang. ^_^

0 komentar:

Posting Komentar