Minggu, 06 Juli 2014

Read. Understand. Memorize QURAN



Dan sungguh telah Kami mudahkan Al Quran untuk diingat, apakah ada yang mau mengingatnya? - QS al Qamar: 18 -

Bahwa Allah akan mempermudah penghafalan Al Quran bagi siapapun yang memiliki niat tulus untuk menghafalnya. Allah akan memberikan padanya sebuah kondisi yang cocok untuk menghafal al Quran ketika ia bertekad untuk menghafal al Quran, dan mengarahkan hatinya dengan bersih kepada Allah serta benar-benar memohon bantuan-Nya.

Yang bilang Quran dijadikan mudah tuk dipelajari-diingat adalah Zat yang menciptakan isi kepala dan hatimu. Jaminan itu datang dari-Nya, yang lebih mengetahui kapasitas kepala-hatimu.

Apakah Quran diturunkan hanya bagi mereka yang lapang waktunya? Apakah kemudahan itu tidak berlaku bagi mereka yang aktivitasnya terhitung 'padat'?

Apakah Quran dimudahkan bagi mereka yang duduk di bangku pesantren saja? Dimudahkan bagi para santri dan calon 'ustadz' saja? adakah pengkhususan seperti ini di ayat tadi? Jawab oleh hatimu.

Kita sering mengeluhkan sulitnya mengikat Quran, meski kita sudah meluangkan waktu setiap ba'da isya dan shubuh. Di lain waktu tanpa Kita sadari Kita bisa menghafal setengah halaman kurang dari 30 menit. Bukankah ini pertanda bahwa lapangnya waktu independen terhadap jumlah ayat yang bisa diikat?

2-3 jam dalam sehari itu sudah sangat cukup. Tinggal kita atur volume hati. Janganlah berputus asa. Bergembiralah, Quran ini dijadikan mudah bagi siapapun, yang berprofesi apapun, untuk kepadatan aktivitasnya  yang bermacam, asal ia membuka hatinya kemudian mengucap 'selamat datang' kepada Quran.

Mungkin kita terlambat, usia sudah kepala dua, tetapi hafalan masih segitu-gitu saja. Pantas Quran belum menghentak hidup kita. Mungkin setiap ayatnya belum merasuk ke dalam hati kita. Tetapi, bukan berarti tidak mungkin, kan?

Karena orang yang menghafalkannya akan mempunyai intensitas interaksi terhadap Quran yang lebih tinggi daripada yang belum menghafalkannya. Shalat malamnya akan lebih nikmat. Waktu lebih berkah, in syaa Allah..

Dari situ, in syaa Allah, ketika berkeluarga nanti kita akan membangun keluarga Qurani. Jangan sia-siakan masa kecil anak kita, karena itu adalah usia emas untuk menanamkan Quran ke dalam dirinya. Sehingga Quran mendarah daging dan menjadi akhlaqnya."

Semangat menghafal Quran. Tidak ada kata terlambat. Apalagi kalo terlambatnya bisa bareng-bareng kayak di generasi kita, seru. Dan jangan biarkan generasi anak-cucu kita mendapat nasib yang sama dengan kita. Hehe ;)


*) kutipan buku "Berbagi Pengalaman Menjadi Hafizh Al Quran" karya Ir. Abduldaem Al-Kaheel

Jumat, 04 Juli 2014

"Berlabuh di Negeri Takwa"

"Ramadhan sarana tarqiyatul iman”
"Hanya orang berimanlah yang menyibukkan Ramadhan dengan amalan ibadah"
"Perkara puasa itu dibentengi dengan iman"
"Setelah iman, maka yang dihasikan pada bulan Ramadhan adalah kesabaran" 

Sabar ada tiga, yaitu
  1. sabar pada ketaatan
  2. sabar dalam meninggalkan kemaksiatan
  3. sabar ketika ditimpa musibah
Selain iman dan sabar yang kita dapatkan di bulan ramadhan adalah mujahadah.

Tidak dapat mendapat kemenangan tanpa adanya keimanan, kesabaran dan mujahadah.
Kesimpulan dari 3 point yang kita dapatkan di bulan ramadhan yaitu (iman, sabar  mujahadah) bermuara pada takwa.
Takwa itu mengandung makna yaitu Takut dan Hati-hati.

Sehingga takwa itu mengerjakan perintah sesuai keinginan Allah, dan menjauhkan larangan Allah sesuai keinginan Allah.
Kegagalan di bulan ramadhan adalah karena kita melanggar selera/keinginan Allah.
Takwa itu harus bersifat kolektif, bukan individu.
Kisah kolektif takwa diabadikan di dalam alquran, yang membagi 3 golongan,
  1.  Gol. yang melanggar ketaatan Allah
  2.  Gol. yang taat pada Allah dan menasehati gol.1
  3.  Gol. yang taat pada Allah dan menasehati gol.2 untuk tidak menasehati gol. 1
Maka yang selamat hanyalah golongan 2.

Kisah tersebut mempunyai hikmah akan mengajak pada ketakwaan kolektif.
Hingga Ramadhan juga sebagai bulan untuk menyeru kebaikan.
Takwa di bulan ramadhan dapat diaplikasikan sebagai Tarbiayud Dakwah.

Maka percuma ketika di bulan ramadhan kita berlelah-lelah dalam amalan di bulan ramadhan, namun pasca Ramadhan kita hanya menikmati ketakwaan secara individu tanpa menghimpun ketakwaan dalam mengajak pada kebaikan.
Intinya adalah yang dihasilkan di bulan ramadhan:
1. Keimanan
2. Kesabaran
3. Mujahadah/ kesungguhan
Tiga hal tersebut bermuara pada ketakwaan.

Takwa yang semestinya bukanlah untuk dinikmati diri sendiri, namun harus dihimpun hingga menghasilkan ketakwaan yang lain dalam kontek dakwah.

Wallahu 'alam.
Semoga manfaat...


*)oleh: Ust. Hilman Rasyad