Duhai aku mencarimu wahai hakekat hidup, yang entah apa sungguh aku
tak pernah tahu di perjalanan waktu yang sampai kapan dan kenapa aku mesti ada?
Kulihat di cermin wajahku dan bertanya lagi kamu ini siapa? Akupun
terdiam tak berdaya, mana hai kekuatan jiwa raga dulu yang pernah kau
banggakan, bukankah waktu menghantarmu pada kerapuhan?
Aku baru sadar, di sana pertanggungjawaban menunggu tenang di balik
dunia yang telah dianggap sebagai segalanya.
Sungguh di mana aku sekarang? Bila keduanya tak pernah ada dunia
atau akhirat? Yang tak pernah beriringan mengawalku jatuh bangun telah
kupertahankan. Namun selalu saja membuat aku kian resah. Saat berlebih aku tak
pernah berbagi, namun saat berkurang aku lebih sibuk mengeluh.
Wahai apa aku ini? Tertanya lagi maksud perjalanan hidupku, dan tak
pernah terjawab.
Kuraih kitab terjemahan yang berdebu di rak buku, kutiup lembar demi
lembar, kubuka tanpa nafsu, kutaruh kembali di atas meja, barangkali hari ini
belum waktunya tiba.
Lantas aku pun pulas di atas sofa …
Sampai fajar ku jelang. … Ashsholaatu khoirum minannaauum…
Shalat itu lebih baik daripada tidur, dan aku terjaga. Bergegas
melangkah ke mushalla.
Hanya beberapa orang renta, memandangku dengan senyum penuh persahabatan.
Mempersilakan aku maju berdiri di muka. Kugelengkan kepala pelan, Bapak saja
jawabku sambil mempersilakan.
Alunan suara dalam dada.
Inna shalati …
Wa nusuki …
Wa mahyaya …
Wa mamati …
Lillahi robbil ‘alamiin …
Sesungguhnya shalatku …
Ibadahku …
Hidupku …
Dan matiku …
Hanya untuk Allah, Penguasa alam raya
Bergetarlah rasa dalam kalbuku terucap sumpah setia pada sang
Penguasa Jagad Raya, Ilahi Rabbi. Sujud menyetuh permukaan bumi tanda hamba
papa di hadapan-Nya. Teramat kecil dan tak berarti apa.
Saat pulang kuraih kitab suciku yang semalam menemani dalam diam,
lelap tanpa kesadaran bagai mati sejenak kubuka surat adz-Dzariyat: 56 “Dan Aku
tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.”
Kuulang-ulang sampai aku faham dan tertegun sebuah kesadaran diri
datang tentang hakekat kehidupan menurut sang Pencipta insan… yang terkadang
lupa mengenal siapa dirinya.
Sepaham apa engkau tentang Dienul Islam?
Sepaham apa engkau tentang al-Qur’an?
Sepaham apa engkau tentang Hadits?
Duh, … kutundukkan wajah merenung dalam-dalam mencari jalan kelak
jikalau pulang kembali kepada Pemilik kehidupan dengan membawa bekal.
Tapi kini sepanjang jalan terasa berhenti di persimpangan yang entah
di mana?
Duniaku terasa sepi dan akhiratku begitu sunyi, tiada pilihan hidup
yang berimbang mana dunia dan mana akhirat … Ihdinashshirathal mustaqim.*
Rabbana atina fiddunya hasanah,
Wa fil akhirati hasanah,
Waqina ‘adzabannaar …
a engk
Meraba hakekat hidup yang terlupakan sampai batas umur yang entah sampai kapan tertinggal dalam perjalanan Dienul Islam.
Andai roh ini terlepas dari jasad, kubayangkan malam rintik gerimis
hujan dalam kubur yang gelap gulita tanpa berteman iman dan amal.
Duhai aku mencarimu wahai hakekat hidup, yang entah apa
sungguh aku tak pernah tahu di perjalanan waktu yang sampai kapan dan
kenapa aku mesti ada?
Kulihat di cermin wajahku dan bertanya lagi kamu ini siapa?
Akupun terdiam tak berdaya, mana hai kekuatan jiwa raga dulu yang
pernah kau banggakan, bukankah waktu menghantarmu pada kerapuhan?
Aku baru sadar, di sana pertanggungjawaban menunggu tenang di balik dunia yang telah dianggap sebagai segalanya.
Sungguh di mana aku sekarang? Bila keduanya tak pernah ada
dunia atau akhirat? Yang tak pernah beriringan mengawalku jatuh bangun
telah kupertahankan. Namun selalu saja membuat aku kian resah. Saat
berlebih aku tak pernah berbagi, namun saat berkurang aku lebih sibuk
mengeluh.
Wahai apa aku ini? Tertanya lagi maksud perjalanan hidupku, dan tak pernah terjawab.
Kuraih kitab terjemahan yang berdebu di rak buku, kutiup
lembar demi lembar, kubuka tanpa nafsu, kutaruh kembali di atas meja,
barangkali hari ini belum waktunya tiba.
Lantas aku pun pulas di atas sofa …
Sampai fajar ku jelang. … Ashsholaatu khoirum minannaauum…
Shalat itu lebih baik daripada tidur, dan aku terjaga. Bergegas melangkah ke mushalla.
Hanya beberapa orang renta, memandangku dengan senyum penuh
persahabatan. Mempersilakan aku maju berdiri di muka. Kugelengkan
kepala pelan, Bapak saja jawabku sambil mempersilakan.
Alunan suara dalam dada.
Inna shalati …
Wa nusuki …
Wa mahyaya …
Wa mamati …
Lillahi robbil ‘alamiin …
Sesungguhnya shalatku …
Ibadahku …
Hidupku …
Dan matiku …
Hanya untuk Allah, Penguasa alam raya
Bergetarlah rasa dalam kalbuku terucap sumpah setia pada
sang Penguasa Jagad Raya, Ilahi Rabbi. Sujud menyetuh permukaan bumi
tanda hamba papa di hadapan-Nya. Teramat kecil dan tak berarti apa.
Saat pulang kuraih kitab suciku yang semalam menemani dalam
diam, lelap tanpa kesadaran bagai mati sejenak kubuka surat
adz-Dzariyat: 56 “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
untuk beribadah kepada-Ku.”
Kuulang-ulang sampai aku faham dan tertegun sebuah
kesadaran diri datang tentang hakekat kehidupan menurut sang Pencipta
insan… yang terkadang lupa mengenal siapa dirinya.
Sepaham apa engkau tentang Dienul Islam?
Sepaham apa engkau tentang al-Qur’an?
Sepaham apa engkau tentang Hadits?
Duh, … kutundukkan wajah merenung dalam-dalam mencari jalan
kelak jikalau pulang kembali kepada Pemilik kehidupan dengan membawa
bekal.
Tapi kini sepanjang jalan terasa berhenti di persimpangan yang entah di mana?
Duniaku terasa sepi dan akhiratku begitu sunyi, tiada pilihan hidup yang berimbang mana dunia dan mana akhirat … Ihdinashshirathal mustaqim.*
Rabbana atina fiddunya hasanah,
Wa fil akhirati hasanah,
Waqina ‘adzabannaar …
- See more at: http://qiblati.com/di-persimpangan-jalan.html#sthash.uGbedVhf.dpuf
Meraba hakekat hidup yang terlupakan sampai batas umur yang entah sampai kapan tertinggal dalam perjalanan Dienul Islam.
Andai roh ini terlepas dari jasad, kubayangkan malam rintik gerimis
hujan dalam kubur yang gelap gulita tanpa berteman iman dan amal.
Duhai aku mencarimu wahai hakekat hidup, yang entah apa
sungguh aku tak pernah tahu di perjalanan waktu yang sampai kapan dan
kenapa aku mesti ada?
Kulihat di cermin wajahku dan bertanya lagi kamu ini siapa?
Akupun terdiam tak berdaya, mana hai kekuatan jiwa raga dulu yang
pernah kau banggakan, bukankah waktu menghantarmu pada kerapuhan?
Aku baru sadar, di sana pertanggungjawaban menunggu tenang di balik dunia yang telah dianggap sebagai segalanya.
Sungguh di mana aku sekarang? Bila keduanya tak pernah ada
dunia atau akhirat? Yang tak pernah beriringan mengawalku jatuh bangun
telah kupertahankan. Namun selalu saja membuat aku kian resah. Saat
berlebih aku tak pernah berbagi, namun saat berkurang aku lebih sibuk
mengeluh.
Wahai apa aku ini? Tertanya lagi maksud perjalanan hidupku, dan tak pernah terjawab.
Kuraih kitab terjemahan yang berdebu di rak buku, kutiup
lembar demi lembar, kubuka tanpa nafsu, kutaruh kembali di atas meja,
barangkali hari ini belum waktunya tiba.
Lantas aku pun pulas di atas sofa …
Sampai fajar ku jelang. … Ashsholaatu khoirum minannaauum…
Shalat itu lebih baik daripada tidur, dan aku terjaga. Bergegas melangkah ke mushalla.
Hanya beberapa orang renta, memandangku dengan senyum penuh
persahabatan. Mempersilakan aku maju berdiri di muka. Kugelengkan
kepala pelan, Bapak saja jawabku sambil mempersilakan.
Alunan suara dalam dada.
Inna shalati …
Wa nusuki …
Wa mahyaya …
Wa mamati …
Lillahi robbil ‘alamiin …
Sesungguhnya shalatku …
Ibadahku …
Hidupku …
Dan matiku …
Hanya untuk Allah, Penguasa alam raya
Bergetarlah rasa dalam kalbuku terucap sumpah setia pada
sang Penguasa Jagad Raya, Ilahi Rabbi. Sujud menyetuh permukaan bumi
tanda hamba papa di hadapan-Nya. Teramat kecil dan tak berarti apa.
Saat pulang kuraih kitab suciku yang semalam menemani dalam
diam, lelap tanpa kesadaran bagai mati sejenak kubuka surat
adz-Dzariyat: 56 “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
untuk beribadah kepada-Ku.”
Kuulang-ulang sampai aku faham dan tertegun sebuah
kesadaran diri datang tentang hakekat kehidupan menurut sang Pencipta
insan… yang terkadang lupa mengenal siapa dirinya.
Sepaham apa engkau tentang Dienul Islam?
Sepaham apa engkau tentang al-Qur’an?
Sepaham apa engkau tentang Hadits?
Duh, … kutundukkan wajah merenung dalam-dalam mencari jalan
kelak jikalau pulang kembali kepada Pemilik kehidupan dengan membawa
bekal.
Tapi kini sepanjang jalan terasa berhenti di persimpangan yang entah di mana?
Duniaku terasa sepi dan akhiratku begitu sunyi, tiada pilihan hidup yang berimbang mana dunia dan mana akhirat … Ihdinashshirathal mustaqim.*
Rabbana atina fiddunya hasanah,
Wa fil akhirati hasanah,
Waqina ‘adzabannaar …
- See more at: http://qiblati.com/di-persimpangan-jalan.html#sthash.uGbedVhf.dpuf
Meraba hakekat hidup yang terlupakan sampai batas umur yang entah sampai kapan tertinggal dalam perjalanan Dienul Islam.
Andai roh ini terlepas dari jasad, kubayangkan malam rintik gerimis
hujan dalam kubur yang gelap gulita tanpa berteman iman dan amal.
Duhai aku mencarimu wahai hakekat hidup, yang entah apa
sungguh aku tak pernah tahu di perjalanan waktu yang sampai kapan dan
kenapa aku mesti ada?
Kulihat di cermin wajahku dan bertanya lagi kamu ini siapa?
Akupun terdiam tak berdaya, mana hai kekuatan jiwa raga dulu yang
pernah kau banggakan, bukankah waktu menghantarmu pada kerapuhan?
Aku baru sadar, di sana pertanggungjawaban menunggu tenang di balik dunia yang telah dianggap sebagai segalanya.
Sungguh di mana aku sekarang? Bila keduanya tak pernah ada
dunia atau akhirat? Yang tak pernah beriringan mengawalku jatuh bangun
telah kupertahankan. Namun selalu saja membuat aku kian resah. Saat
berlebih aku tak pernah berbagi, namun saat berkurang aku lebih sibuk
mengeluh.
Wahai apa aku ini? Tertanya lagi maksud perjalanan hidupku, dan tak pernah terjawab.
Kuraih kitab terjemahan yang berdebu di rak buku, kutiup
lembar demi lembar, kubuka tanpa nafsu, kutaruh kembali di atas meja,
barangkali hari ini belum waktunya tiba.
Lantas aku pun pulas di atas sofa …
Sampai fajar ku jelang. … Ashsholaatu khoirum minannaauum…
Shalat itu lebih baik daripada tidur, dan aku terjaga. Bergegas melangkah ke mushalla.
Hanya beberapa orang renta, memandangku dengan senyum penuh
persahabatan. Mempersilakan aku maju berdiri di muka. Kugelengkan
kepala pelan, Bapak saja jawabku sambil mempersilakan.
Alunan suara dalam dada.
Inna shalati …
Wa nusuki …
Wa mahyaya …
Wa mamati …
Lillahi robbil ‘alamiin …
Sesungguhnya shalatku …
Ibadahku …
Hidupku …
Dan matiku …
Hanya untuk Allah, Penguasa alam raya
Bergetarlah rasa dalam kalbuku terucap sumpah setia pada
sang Penguasa Jagad Raya, Ilahi Rabbi. Sujud menyetuh permukaan bumi
tanda hamba papa di hadapan-Nya. Teramat kecil dan tak berarti apa.
Saat pulang kuraih kitab suciku yang semalam menemani dalam
diam, lelap tanpa kesadaran bagai mati sejenak kubuka surat
adz-Dzariyat: 56 “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
untuk beribadah kepada-Ku.”
Kuulang-ulang sampai aku faham dan tertegun sebuah
kesadaran diri datang tentang hakekat kehidupan menurut sang Pencipta
insan… yang terkadang lupa mengenal siapa dirinya.
Sepaham apa engkau tentang Dienul Islam?
Sepaham apa engkau tentang al-Qur’an?
Sepaham apa engkau tentang Hadits?
Duh, … kutundukkan wajah merenung dalam-dalam mencari jalan
kelak jikalau pulang kembali kepada Pemilik kehidupan dengan membawa
bekal.
Tapi kini sepanjang jalan terasa berhenti di persimpangan yang entah di mana?
Duniaku terasa sepi dan akhiratku begitu sunyi, tiada pilihan hidup yang berimbang mana dunia dan mana akhirat … Ihdinashshirathal mustaqim.*
Rabbana atina fiddunya hasanah,
Wa fil akhirati hasanah,
Waqina ‘adzabannaar …
- See more at: http://qiblati.com/di-persimpangan-jalan.html#sthash.uGbedVhf.dpuf
Meraba hakekat hidup yang terlupakan sampai batas umur yang entah sampai kapan tertinggal dalam perjalanan Dienul Islam.
Andai roh ini terlepas dari jasad, kubayangkan malam rintik gerimis
hujan dalam kubur yang gelap gulita tanpa berteman iman dan amal.
Duhai aku mencarimu wahai hakekat hidup, yang entah apa
sungguh aku tak pernah tahu di perjalanan waktu yang sampai kapan dan
kenapa aku mesti ada?
Kulihat di cermin wajahku dan bertanya lagi kamu ini siapa?
Akupun terdiam tak berdaya, mana hai kekuatan jiwa raga dulu yang
pernah kau banggakan, bukankah waktu menghantarmu pada kerapuhan?
Aku baru sadar, di sana pertanggungjawaban menunggu tenang di balik dunia yang telah dianggap sebagai segalanya.
Sungguh di mana aku sekarang? Bila keduanya tak pernah ada
dunia atau akhirat? Yang tak pernah beriringan mengawalku jatuh bangun
telah kupertahankan. Namun selalu saja membuat aku kian resah. Saat
berlebih aku tak pernah berbagi, namun saat berkurang aku lebih sibuk
mengeluh.
Wahai apa aku ini? Tertanya lagi maksud perjalanan hidupku, dan tak pernah terjawab.
Kuraih kitab terjemahan yang berdebu di rak buku, kutiup
lembar demi lembar, kubuka tanpa nafsu, kutaruh kembali di atas meja,
barangkali hari ini belum waktunya tiba.
Lantas aku pun pulas di atas sofa …
Sampai fajar ku jelang. … Ashsholaatu khoirum minannaauum…
Shalat itu lebih baik daripada tidur, dan aku terjaga. Bergegas melangkah ke mushalla.
Hanya beberapa orang renta, memandangku dengan senyum penuh
persahabatan. Mempersilakan aku maju berdiri di muka. Kugelengkan
kepala pelan, Bapak saja jawabku sambil mempersilakan.
Alunan suara dalam dada.
Inna shalati …
Wa nusuki …
Wa mahyaya …
Wa mamati …
Lillahi robbil ‘alamiin …
Sesungguhnya shalatku …
Ibadahku …
Hidupku …
Dan matiku …
Hanya untuk Allah, Penguasa alam raya
Bergetarlah rasa dalam kalbuku terucap sumpah setia pada
sang Penguasa Jagad Raya, Ilahi Rabbi. Sujud menyetuh permukaan bumi
tanda hamba papa di hadapan-Nya. Teramat kecil dan tak berarti apa.
Saat pulang kuraih kitab suciku yang semalam menemani dalam
diam, lelap tanpa kesadaran bagai mati sejenak kubuka surat
adz-Dzariyat: 56 “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
untuk beribadah kepada-Ku.”
Kuulang-ulang sampai aku faham dan tertegun sebuah
kesadaran diri datang tentang hakekat kehidupan menurut sang Pencipta
insan… yang terkadang lupa mengenal siapa dirinya.
Sepaham apa engkau tentang Dienul Islam?
Sepaham apa engkau tentang al-Qur’an?
Sepaham apa engkau tentang Hadits?
Duh, … kutundukkan wajah merenung dalam-dalam mencari jalan
kelak jikalau pulang kembali kepada Pemilik kehidupan dengan membawa
bekal.
Tapi kini sepanjang jalan terasa berhenti di persimpangan yang entah di mana?
Duniaku terasa sepi dan akhiratku begitu sunyi, tiada pilihan hidup yang berimbang mana dunia dan mana akhirat … Ihdinashshirathal mustaqim.*
Rabbana atina fiddunya hasanah,
Wa fil akhirati hasanah,
Waqina ‘adzabannaar …
- See more at: http://qiblati.com/di-persimpangan-jalan.html#sthash.uGbedVhf.dpuf


0 komentar:
Posting Komentar